Serbakabar.com – JAKARTA – Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran konten hiburan global, menjaga ingatan kolektif bangsa terhadap sosok pahlawan menjadi tantangan besar. Menyadari hal tersebut, Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno, menekankan pentingnya media film sebagai jembatan bagi generasi muda untuk menyelami sejarah bangsa.
Pesan ini disampaikan Wagub Rano saat menghadiri acara special screening film Buya Hamka III di XXI Metropole, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (20/4). Kehadiran sosok yang akrab disapa “Si Doel” ini tidak sendirian; ia didampingi oleh jajaran pejabat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta serta direksi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai bentuk dukungan nyata terhadap industri kreatif nasional.
Film sebagai Medium Edukasi Karakter
Bagi Rano Karno, film bukan sekadar komoditas hiburan semata, melainkan instrumen krusial dalam memperkuat literasi sejarah. Ia melihat adanya kecenderungan “jarak” yang semakin lebar antara generasi milenial dan Gen Z dengan tokoh-tokoh besar yang membentuk fondasi Indonesia. Melalui seri ketiga film Buya Hamka ini, Rano berharap nilai-nilai integritas, sastra, dan religiusitas sang ulama besar dapat tersampaikan secara visual.
“Film ini dibuat melalui perjalanan panjang yang penuh dedikasi. Sejak awal, produser sudah memahami risikonya, baik secara komersial maupun teknis. Namun, ada misi yang jauh lebih mulia di sini, yaitu bagaimana generasi muda kita kembali mengenal Buya Hamka sebagai tokoh panutan yang paripurna,” ujar Wagub Rano di depan awak media.
Ia menilai bahwa penguatan karakter bangsa tidak cukup hanya melalui buku teks di sekolah. Diperlukan pendekatan yang lebih emosional dan dekat dengan keseharian anak muda, dan sinema adalah jawabannya. Film mampu menghidupkan kembali emosi, perjuangan, dan pemikiran tokoh sejarah sehingga terasa relevan dengan konteks zaman sekarang.
Dukungan Kolektif: Lebih dari Sekadar Finansial
Dalam orasinya, Wagub Rano juga menyoroti ekosistem perfilman bertema sejarah yang seringkali dianggap “berat” oleh pasar. Ia menegaskan bahwa keberlangsungan karya-karya bermutu seperti Buya Hamka III memerlukan keberpihakan dari banyak pihak.
“Dukungan terhadap film sejarah tidak boleh berhenti pada aspek pembiayaan atau subsidi saja. Kita butuh ruang apresiasi yang lebih luas. Pemerintah, sektor swasta, dan institusi pendidikan harus berkolaborasi agar karya semacam ini menjangkau publik secara masif,” jelasnya.
Rano mengajak para orang tua dan pendidik untuk menjadikan momentum penayangan film ini sebagai sarana edukasi luar ruang. Dengan menonton bersama, akan muncul ruang diskusi antara orang tua dan anak mengenai nilai kehidupan dan semangat kebangsaan yang dipraktikkan oleh para pendahulu bangsa.

Visi Jakarta sebagai Kota Sinema Internasional
Selain berbicara mengenai konten film, Wagub Rano memanfaatkan momentum ini untuk memaparkan visi besar Jakarta ke depan. Ia mengungkapkan komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam membangun ekosistem perfilman yang lebih profesional melalui pembentukan Jakarta Film Commission (JFC) yang dijadwalkan meluncur pada 22 Juni mendatang.
JFC diproyeksikan menjadi lembaga satu pintu yang memfasilitasi kebutuhan produksi film, mulai dari perizinan lokasi di wilayah Jakarta hingga promosi karya ke kancah global. Langkah ini diharapkan mampu menarik minat sineas internasional untuk menjadikan Jakarta sebagai latar produksi mereka.
“Jakarta akan bertransformasi menjadi kota sinema. Kami telah menjalin komunikasi dan kerja sama dengan berbagai pihak mancanegara. Ini adalah bukti bahwa Jakarta memiliki potensi besar dalam industri kreatif global, khususnya di bidang perfilman,” urainya dengan optimistis.
Lebih lanjut, Jakarta ditargetkan menjadi tuan rumah bagi berbagai agenda perfilman internasional. Wagub Rano memandang bahwa posisi Jakarta sebagai pusat ekonomi harus diimbangi dengan perannya sebagai pusat kebudayaan dan ruang tumbuh bagi karya sinema nasional yang kompetitif.
Ajakan untuk Masyarakat
Menutup kunjungannya, Rano Karno kembali mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Ia berharap film Buya Hamka III dapat menjadi pemantik bagi anak muda untuk kembali gemar membaca dan meriset sejarah para pahlawan.
“Kita semua memikul tanggung jawab untuk memperkenalkan tokoh panutan kepada generasi penerus. Jangan biarkan mereka kehilangan identitas. Film ini sangat layak ditonton dan wajib menjadi bagian dari pembelajaran nilai kehidupan bagi kita semua,” pungkasnya.
Dengan berakhirnya acara screening tersebut, diharapkan antusiasme masyarakat terhadap film sejarah semakin meningkat, sejalan dengan visi Jakarta yang terus bersolek menjadi kota global yang tidak melupakan akar sejarahnya.





