ESerbakabar – Jakarta. Islam tidak hanya mengatur tentang ibadah salat, puasa, atau haji. Sebagai agama yang syamil (lengkap) dan sempurna, Islam juga mengatur tata cara kehidupan sehari-hari, bahkan untuk perkara yang dianggap sepele, seperti buang hajat (buang air besar atau kecil).
Ketelitian ajaran Islam dalam mengatur adab buang hajat ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan kebersihan, kesehatan, dan menjaga kehormatan diri serta orang lain. Perhatian ini sangat penting, karena kebersihan adalah syarat mutlak untuk melakukan ibadah, terutama shalat.
Berikut adalah rangkuman adab buang hajat menurut ajaran Islam, yang dihimpun dari kitab-kitab fikih terkemuka:
Adab Buang Hajat: Sebelum, Saat, dan Sesudah
Secara ringkas, adab-adab tersebut dibagi menjadi tiga tahap:
1. Sebelum Masuk Kamar Mandi (Toilet)
* Mendahulukan Kaki Kiri: Saat memasuki toilet, disunahkan untuk melangkah dengan kaki kiri terlebih dahulu. Ini adalah adab yang diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk membedakan antara tempat mulia (seperti masjid) dan tempat kotor.
* Membaca Doa Masuk: Membaca doa khusus untuk meminta perlindungan dari gangguan setan, baik laki-laki (khubutsi) maupun perempuan (khaba-its). Setan seringkali berdiam di tempat-tempat yang kotor dan najis.
* Doanya: “Allahumma inni a’udzubika minal khubutsi wal khabaits.”
* Menyiapkan Penutup Aurat: Memastikan aurat tertutup dengan sempurna dan tidak membukanya hingga benar-benar siap untuk berjongkok atau dalam posisi buang hajat.
2. Saat Berada di Dalam Kamar Mandi
* Menghadap atau Membelakangi Kiblat: Ada perdebatan di kalangan ulama mengenai hal ini. Sebagian besar berpendapat bahwa makruh (dibenci, tapi tidak berdosa) menghadap atau membelakangi kiblat saat buang hajat di tempat terbuka. Namun, jika di dalam bangunan yang sudah ditentukan arahnya (toilet modern), hal ini diperbolehkan.
* Menjaga Kebersihan: Tidak buang hajat di tempat-tempat yang dapat mengganggu orang lain, seperti di bawah pohon yang berbuah, di jalan yang sering dilalui orang, atau di air yang tenang.
* Diam dan Tidak Berlama-lama: Disunahkan untuk tidak banyak bicara atau bersenandung saat buang hajat, serta tidak berlama-lama di dalam toilet kecuali jika diperlukan untuk keperluan mendesak.
3. Sesudah Selesai dan Keluar
* Mendahulukan Kaki Kanan: Saat keluar dari toilet, disunahkan untuk melangkah dengan kaki kanan terlebih dahulu.
* Membaca Doa Keluar: Membaca doa khusus untuk memohon ampunan Allah SWT dan bersyukur atas kesehatan yang diberikan.
* Doanya: “Ghufranaka. Alhamdulillaahilladzi adzhaba ‘annil adzaa wa ‘aafaanii.”
* Membersihkan Diri dengan Istinja: Melakukan istinja (membersihkan dubur dan qubul) dengan air yang suci dan mensucikan. Istinja harus dilakukan hingga bersih sempurna.
Ilustrasi: Menghormati Adab di Toilet Modern
Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah ilustrasi mengenai adab-adab tersebut dalam konteks kamar mandi modern.

Gambar 1: Membaca Doa Masuk. Ilustrasi ini menunjukkan visual doa masuk kamar mandi, lengkap dengan tulisan Arab, transliterasi, dan terjemahannya, sebagai pengingat untuk selalu membacanya sebelum masuk.
Referensi Kitab Fikih:
Berikut adalah beberapa rujukan kitab fikih terkemuka yang menjelaskan adab-adab buang hajat:
- “Fathul Mu’in” karya Syekh Zainuddin Al-Malibari
- “Fathul Qorib” Karya Syekh Muhammad bin Qasim al-Ghazzi
- “Kifayatul Akhyar” karya Imam Taqiuddin Abu Bakar Al-Hishni.
- “Matan Al-Ghayah Wat Taqrib” karya Imam Abu Syuja’
Hikmah dari Adab Buang Hajat
Selain menjaga kebersihan dan kesucian, adab-adab buang hajat juga memiliki hikmah lain:
- Menghormati Allah SWT: Melalui adab ini, seorang muslim diingatkan untuk selalu menyadari kehadiran Allah SWT, bahkan dalam situasi yang paling privasi.
- Mencegah Gangguan Setan: Berbagai doa dan tindakan perlindungan (seperti mendahulukan kaki kiri dan kanan) bertujuan untuk menjauhkan diri dari gangguan setan yang ada di tempat-tempat kotor.
- Menjaga Kesehatan: Tindakan istinja dengan air suci adalah cara terbaik untuk mencegah berbagai penyakit kulit dan saluran pencernaan.
- Menjaga Marwah: Adab ini juga mengajarkan tentang pentingnya menjaga kehormatan diri dan orang lain dengan tidak buang hajat di tempat-tempat yang dapat mengganggu.
Dengan memahami dan menerapkan adab buang hajat ini, seorang muslim tidak hanya menjalankan syariat Islam, tetapi juga menjaga kebersihan, kesehatan, dan kehormatannya. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Islam adalah agama yang paripurna, mengatur segala aspek kehidupan manusia dari hal terkecil hingga terbesar.





